Selasa, 17 September 2013

Artikel Robert Steven : Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing

Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang sangat popular dengan menampilkan panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai. Keunikan Shuihan Penjing terletak pada pemakaian wadah tanam berupa pot tipis yang terbuat dari marmer putih untuk mempertegas kesan permukaan air pada karya tersebut.


Shui = Air, Han = Daratan; Shuihan Penjing = Penjing yang menampilkan pemandangan air dan daratan.
Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang menampikan suatu panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai dengan elemen pohon sebagai objek utama.

Filsafat dasar dari Shuihan Penjing adalah “Yuan yi zi ran, gao yi zi ran” (Inspirasi dari alam dan mengacu pada kesempurnaan alam).
Konsep dasar Shuihan Penjing adalah menampilkan suatu cuplikan panorama alam yang menggambarkan pohon-pohon yang tumbuh di daratan pinggir danao atau sungai; dan elemen air tersebut direpresentasikan dengan ruang kosong dasar wadah tanam, biasanya memakai pot tipis yang terbuat dari marmer putih.
Untuk mempertegas kesan air yang dalam, biasanya dipakai bebatuan yang bagian bawahnya dipotong rata dan kemudian ditempelkan ke dasar wadah untuk membentuk garis pinggir sungai ataupun pulau-pulau kecil. Dengan bentuk bebatuan demikian, terkesan sebagian batunya berada di bawah permukaan air sehingga walaupun tidak ada air benaran, ilusi permukaan air dapat ditampilkan secara apik.

Pohon yang ditampilkan bisa saja tunggal atau berkelompok, bisa tumbuh di atas batu, bentuk raft dan lain-lain dengan berbagai gaya. Yang penting adalah bagaimana menampilkan gaya pohon tersebut sesuai dengan frnomena alam serta tema yang ingin disampaikan; termasuk hukum hortikultura dan aspek fisiologi serta morfologi tanaman. Contohnya, pohon yang hidup di pinggiran sungai biasanya cenderung untuk tumbuh mengarah ke sumber air mengikuti arah pertumbuhan akar.

Wadah tanamnya tidak harus berwarna putih dan tidak harus terbuat dari marmer; tetapi harus diakui, wadah yang terbuat dari marmer putih tetap memberi nuansa yang lebih indah khususnya dalam merefleksikan nuansa air. Yang penting wadah tersebut harus setipis mungkin karena dengan wadah yang tipis, kesan ruang panoramannya akan lebih luas, presentasi pohonnya lebih kuat dan permukaan airnya akan terkesan lebih dalam.

Ada tiga aspek estetika dasar yang sangat penting dalam membuat Shuihan Penjing yaitu : Komposisi, Dimensi dan Perspektif. Ketiga teori dasar tersebut tidak bisa berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan erat dalam membentuk hasil keseluruhan yang harmonis.

Komposisi  


Komposisi pada Shuihan Penjing adalah tata-letak dan penyusunan pohon, bebatuan serta objek lain pada bidang pandang datar yang dilihat dari depan. Saat kita membuat Shuihan Penjing, kita harus selalu beranggapan seakan-akan ada sebuat bingkai pada pandangan kita seperti sebuah kanvas kosong yang akan kita lukis sebuah pemandangan.
Tata letak setiap pohon atau kelompok pohon, besar-kecil, tinggi-rendah yang sedemikian rupa harus membentuk sebuah komposisi yang harmonis dan indah dipandang.

Pertama yang perlu kita lakukan adalah memilih pohon atau kelompok pohon yang akan dijadikan objek utama sebagai focus pandang. Fokus pandang harus berupa pohon atau kelompok pohon yang paling dominan, dalam hal ini biasanya adalah pohon atau kelompok pohon yang paling besar. Kemudian menentukan posisi objek utama tersebut sesuai dengan gaya kreasi yang ingin kita buat dan harus disesuaikan dengan bahan pohon yang tersedia.
Bila kita akan membuat gaya kelompok (grouping), maka kita harus tentukan terlebih dahulu letak kelompok utama tersebut sebagai focus pandang.

Letak pohon atau kelompok pohon utama sebaiknnya jangan di tengah-tengah wadah untuk menghindari komposisi yang berbentuk segi-tiga sama kaki atau simetris, karena komposisi yang simetris agak membosankan. Komposisi yang baik adalah komposisi yang asimetri yaitu komposisi yang membentuk segi-tiga tidak sama kaki.

Dari komposisi-lah, kita akan membentuk sketsa dasar dari panorama yang ingin dibuat. Komposisi yang baik akan menghasilkan panorama yang indah sekaligus menunjukkan sejauh mana kita memahami hukum dan fenomena alam nyata serta prinsip hortikultura.

Saat membuat komposisi, kita harus menentukan di mana bidang air yang akan kita bentuk, kemungkinan arah batang akibat erosi, arah cabang mengikuti arah akar, arah perdaunan mencari sinar matahari dan lain-lain.
Bila karya tersebut merupakan gaya kelompok, maka tidak selalu semua pohon mengarah ke satu arah, bisa saja saling berhadapan, tetapi hindari arah yang saling bertolak-belakang. Bentuk pohon-pohon yang dipakai juga tidak harus semua sama, justru di sinilah diperlukan kepiawaian mengolah gerak komposisi yang indah, dinamis dan harmonis, penuh variasi untuk menghasilkan suatu panorama yang apik dan kreatif.

Komposisi yang indah bukan hanya ditentukan oleh bentuk pohon, tetapi juga ditentukan oleh bentuk dan kontur daratan yang kita buat, bahkan penataan ruang kosong pada bagian tertentu. Perlu diingat bahwa ruang kosong adalah bagian dari komposisi yang penting.

Dimensi 


Dimensi pada Shuihan Penjing adalah penataan tata-letak pada permukaan wadah yaitu di mana kita letakkan pohon, batu, daratan dan air termasuk bentuk garis pinggir sungai beserta pulau-pulau kecilnya (dilihat dari atas).

Tata-letak tersebut sangat berpengaruh pada perspektif pandang yang akan kita bentuk selanjutnya; letak objek utama yang agak ke belakang akan memberi kesan ruang pandang yang lebih luas pada bagian depan dan memungkinkan kita untuk membentuk “foreground”; sedangkan letak objek utama yang agak ke depan akan memungkinkan kita untuk menarik perspektif yang lebih dalam atau membentuk latar belakang yang lebih jauh (background).
Bentuk dimensi bagian depan harus membentuk lengkungan ke dalam dan bukan cekung ke depan karena bentuk yang melengkung akan memberi efek pandang yang meluas.

Ada beberapa hal penting dalam tata-letak penyusunan dimensi di Shuihan Penjing antara lain :
- Hindari terbentuknya suatu garis lurus pada susunan pohon-pohon ataupun pulau-pulau.
Letak setiap pohon atau setiap kelompok sebaiknya membentuk garis zig-zag.
- Hindari jarak yang sama antara satu pohon dengan pohon yang lain ataupun antar
kelompok.
- Hindari bentuk garis pinggir sungai atau pulau yang lurus, sebaiknya ada lengkungan-
lengkungan atau liukan-liukan tidak beraturan yang membentuk tanjung dan teluk.
- Bila kita membentuk selat atau aliran sungai, maka sebaiknya selat atau sungai tersebut
tidak berbentuk lurus dari depan ke belakang, tetapi berbentuk liukan zig-zag ke
ke samping, kemudian semakin mengecil/menyempit pada bagian yang menjauh ke
belakang.

Perspektif 



Perspektif adalah persepsi pandangan kita dari depan terhadap dimensi suatu/kelompok objek; dalam hal Shuihan Penjing, perspektif sangat penting dalam membentuk suatu pemandangan alam yang dapat memberi kesan adanya kejauhan. Berhubung wadah tanam yang sangat terbatas, maka perspektif dapat dikamuflase dengan besar-kecil, tinggi-rendahnya pohon, letak setiap kelompok pohon atau daratan dan batu kepulauan serta kontur tanah, bahkan tata letak cabang setiap pohon.
Permainan kontur tanah dan tata letak batu serta garis daratan menjadi lebih penting lagi dalam membentuk perspektif bila karya kita hanya menampilkan jumlah pohon yang sedikit atau tunggal. Selain itu, pemakaian assesori bahkan jenis rumput dan lumutpun dapat memainkan peranan penting.

Selain ketiga aspek estetika dasar tersebut di atas, ada lagi lima aspek teknis penting dalam pembuatan Shuihan Penjing yaitu :

Objek Utama dan Pelengkap

Dalam sebuah karya Shuihan Penjing selalu harus ada objek utama yang menjadi fokus pandang. Objek utama tersebut bisa berupa pohon tunggal atau kelompok yang terdiri dari beberapa pohon. Dalam hal Shuihan Penjing, pohon tetap merupakan objek yang dominan dan bukan batu seperti dalam Sanshui Penjing.

Selain objek utama, ada 2 jenis objek pelengkap yaitu objek pelengkap untuk menarik skala pembanding kepada objek utama, dan objek pelengkap untuk aksentuasi serta untuk membantu membentuk dimensi dan menarik garis perspektif.
Bila objek pelengkap aksentuasi diletakkan di bagian belakang, maka akan menarik garis perspektif ke belakang untuk membentuk “background”; dan bila diletakkan di depan, akan membentuk “foreground”. Objek pelengkap aksentuasi bisa lebih dari satu, tetapi antara satu objek dengan objek yang lain harus terintegrasi secara baik dan jangan sampai terkesan terpisah sendiri-sendiri yang tidak sinkron.

Tahapan dasar dalam desain komposisi, mulai dari peletakan objek utama,
objek pelengkap sampai pembentukan komposisi yang asimetris.















































































Asimetris tetapi Berimbang

Hal ini berkaitan dengan komposisi. Prinsip utama dari komposisi yang baik adalah “hindari bentuk yang simetris”. Susunan secara keseluruhan sebaiknya membentuk segi tiga tidak sama kaki karena bentuk segi tiga sama kaki yang simetris dianggap statis dan membosankan. Keseimbangan visual adalah sangat penting untuk membentuk komposisi yang harmonis; sering sekali ruang kosong yang luas justru dapat memberikan suatu kesan yang indah dan dinamis sehingga objek pada fokus tampak lebih tegas dan monumental.

Hindari peletakkan objek utama di tengah untuk menghindari
bentuk komposisi yang simetris.

Senada tetapi Bervariasi

Jenis pohon yang dipakai sebaiknya sejenis seperti kita membuat bonsai gaya Grouping dan jenis batu yang dipakai harus sejenis dengan asumsi bahwa pada suatu daerah tertentu pada alam nyata hanya mempunyai satu jenis bebatuan yang sama.
Perlu diketahui bahwa batu juga sama seperti kayu yang memiliki urat atau alur yang dibentuk oleh alam secara alamiah akibat aliran air, erosi dll.; oleh sebab itu, peletakan batu juga harus diperhatikan supaya seirama.

Irama dan gerak pohon-pohon juga harus senada dengan fenomena alam yang ingin ditampilkan, tetapi tetap harus bervariasi dengan aksentuasi untuk memperindah gerak yang dinamis dan tidak monoton.
Contohnya bila kita membuat sebuah pulau dengan pohon-pohon yang tumbuh tegak lurus, maka boleh saja ada pohon dekat ke air yang tumbuh dengan gerakan batang melengkung miring ke arah air. Pohon di bagian belakang yang agak dimiringkan ke belakang juga dapat membantu menarik perspektif kedalaman; dan kadang-kadang pohon yang letaknya di pinggir pot sengaja dimiringkan sehingga keluar dari bibir pot justru memberi kesan bidang yang lebih luas dan tanpa batas.
Jadi bentuk pohon tidak harus semua sama, arah bisa berhadapan atau satu arah, tetapi hindari arah pohon yang saling bertolak-belakang.

Jenis pohon yang dipakai sebaiknya sejenis walaupun bentuknya boleh bervariasi,
dan jenis batu yang dipakai juga harus sejenis.

Proporsi dan Skala

Proporsi dan skala dalam karya Shuihan Penjing memainkan peranan sangat penting untuk menciptakan suatu pemandangan yang alami dengan teori perspektif yang relevan.
Setiap objek yang dipakai dan peletakannya harus selalu mempertimbangkan ukuran yang menunjukkan skala dan proporsi imajinatif yang logis. Umpamanya bila kita memakai asesori jembatan, perahu, pagoda, patung manusia atau binatang, maka kita harus memperhatikan ukuran setiap asesori tersebut dan korelasinya serta posisi di mana kita letakkan dibandingkan dengan objek fokus. Bila ada lebih dari satu asesori sejenis yang dipakai, maka yang letaknya lebih ke belakang harus berukuran lebih kecil sesuai dengan hukum perspektif.
Bukan hanya dalam hal pemakaian asesori, bahkan pemakaian jenis rumput, lumut dan batupun bila diimplementasikan secara baik akan menghasilkan karya yang sempurna.

Proporsi dan skala setiap elemen adalah sangat penting untuk
menciptakan hasil karya yang harmonis;
dan pemakaian asesori yang ideal dapat mempertegas tema yang ingin disampaikan.

Alami

Pada karya Shuihan Penjing, yang paling penting adalah memberi kesan alami dan hindari kesan seperti prototype sebuah taman buatan yang artificial karena esensi dari Shuihan Penjing adalah sebuah cuplikan fenomena alam nyata yang alami, sebuah karya seni dan bukan sebuah hasil kerajinan tangan.
Oleh sebab itu, hindari bebatuan yang dibuat dari semen karena jejak rekayasa sangat sulit dihindari. Pemakaian asesori jangan berlebihan dan menyolok karena akan terkesan seperti taman buatan; prinsip pemakaian asesori adalah hanya sebatas sebagai pelengkap aksentuasi pada tema.

Karya ini menggambarkan panorama pulau-pulau kecil di danao
dengan penataan komposisi dan perspektif yang apik,
pemakaina elemen desain yang harmonis,
aksentuasi asesori yang mendukung tema sehingga menghasilkan
nuansa alam yang nyaman dipandang.

 Perawatan

Shuihan Penjing tidak sulit untuk dirawat, penyiramannya sama seperti kita menyiram bonsai; yang penting harus memperhatikan pemupukannya sehubungan dengan media tanam yang relatif sangat sedikit dan terbatas. Sebaiknya selalu memakai pupuk organik yang dicampurkan pada media tanam tersebut dan secara periodik diberikan pupuk butiran NPK serta pupuk daun yang dicampur dengan Vitamin B-1.

Dengan wadah yang tipis, tidak perlu ada lobang drainase karena air akan dengan mudah mengalir keluar ataupun menguap.Untuk menghindari erosi, permukaan tanah sebaiknya ditutupi dengan lumut atau rumput halus dan segera tambahkan tanah bila ada bagian yang terjadi erosi. Sebelum diberi lumut, bagian atas tanah perlu dilapisi terlebih dahulu dengan tanah liat supaya lumut dapat hidup sehat.

Di bawah ini adalah beberapa contoh Shuihan Penjing karya saya. Selamat menikmati dan selamat berkarya !

Walau dalam karya ini tidak terdapat pohon pelengkap yang jelas,
tetapi ukuran patung kerbau yang proporsional telah berhasil
perannya menunjukkan kesan seberapa besar pohon tersebut.

Walaupun lebar pot tersebut sangat terbatas, tetapi skala ukuran pulau dan pohon
di belakang beserta kontur tanahnya berhasil menarik perspektif yang sangat efektif
sehingga pulau di belakang terkesan sangat jauh.
 Catatan :

Konsep tersebut di atas dapat dipergunakan juga pada gaya bonsai Grouping, Forest, Landscape, Raft dan gaya lain yang sejenis.



Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

2 komentar:

  1. fusion bonsai klo istilah bahasa indonesianya apa ya? sambung, tempel opo yo mas??

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo yg pernah saya tahu sih, itu teknik buat bikin bahan bonsai dari penyatuan bibit bibit kecil yang diatur penanamannya sedemikian rupa, sehingga dalam beberapa waktu menyatu hingga tampak jadi satu kesatuan batang yang utuh.

      banyak koq yang udah pake teknik ini, brarti istilah indonesiane yo opo yo, sambung keno, tempel yo iyo, hehehe

      nanti deh saya bikin postingannya, saya kumpulin literaturnya dulu, biar sohib2 yang belum familiar jadi tahu ama teknik ini.

      Matur suwun udah mampir mas

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...