Relevansi Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai
Dalam
seni bonsai, kita sering berbicara mengenai dimensi, komposisi dan
perspektif; sebenarnya apa pengertian dan bagaimana penerapannya dalam
seni bonsai secara konkrit ?
Ketiga unsure tersebut adalah suatu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam estetika seni bonsai, saling
berkaitan dalam praktek mulai dari training awal sampai pemilihan wadah
tanam yang dipakai serta menataan kontur tanah dan pemakaian lumut.
Dimensi.
Dimensi adalah ruang yang ditempati oleh fisik suatu benda. Kita
mengenal benda bertiga-dimensi dan dua-dimensi. Suatu benda disebut
3-dimensi bila fisik benda tersebut menempati ruang dalam tiga orientasi
berupa tinggi, panjang dan lebar (cont.: Bonsai); dan suatu benda
disebut 2-dimensi bila fisik benda tersebut hanya menempati dua
orientasi ruang, contohnya lukisan yang hanya menempati dua orientasi
ruang.
Komposisi. Komposisi adalah tata letak
dan susunan satu atau beberapa objek dalam suatu ruang tertentu; ruang
tersebut bisa dalam bentuk 3-dimensi atau 2-dimensi.
Perspektif.
Perspektif adalah persepsi pandangan kita terhadap suatu objek yang
kita lihat dalam bentuk 2-dimensi. Secara sederhana bisa kita contohkan
sebagai berikut :
Bila kita melihat dengan 2 belah mata sebuah
pemandangan danau dengan gunungnya, efek yang kita lihat adalah
3-dimensi ; tetapi bila kita tutup sebelah mata kita dan hanya melihat
dengan sebelah mata, maka efek pemandangan yang kita lihat adalah
2-dimensi dan kesan jarak antara danau dan gunung yang kita persepsikan
adalah perspektif belaka karena kita kehilangan orientasi lebar.
Demikian juga yang kita lihat dalam foto atau lukisan.
Jadi
perspektif adalah persepsi ilusi orientasi kedalaman ruang dalam bidang
pandang 2-dimensi, atau rekayasa ilusi untuk menciptakan persepsi ruang
yang lebih dalam dari yang sebenarnya pada objek 3-dimensi.
Saat
kita berbicara mengenai seni Bonsai, kita tahu bahwa percabangan adalah
elemen untuk membentuk dimensi; perantingan dan perdaunan adalah elemen
untuk membentuk komposisi; dan tata-letak serta konfigurasi penataan
percabangan, perantingan, perdaunan serta tajuk secara keseluruhan dapat
membentuk perspektif desain. Tata-letak serta konfigurasi elemen-elemen
tersebut di atas dapat membentuk ilusi pada aspek volume pohon serta
ilusi dimensi ke-tiga. Sekarang muncul pertanyaan : Bonsai adalah benda
3-dimensi, sedangkan perspektif adalah suatu konsep untuk bidang
2-dimensi, bagaimana mungkin ?
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Bonsai
adalah objek 3-dimensi yang kita nikmati atau kita pandang dalam
kontekd 2-dimensi karena kita selalu tentukan satu sudut tertentu
sebagai “depan”. Saat kita menentukan cabang untuk membentuk dimensi,
tujuannya adalah untuk membentuk orientasi tinggi rendahnya cabang,
panjang pendeknya serta orientasi lebar ke seluruh arah.
Tetapi dalam
penataan 3-dimensi tersebut, kita harus mampu membentuk sehingga
tata-letaknya dapat membentuk suatu “perspektif” yang merefleksikan
keharmonisan saat kita melihat bonsai tersebut dari satu sudut pandang
tertentu atau dengan sebelah mata (2-dimensi), atau hasil foto; karena
objek bonsai tersebut berada dalam suatu bingkai sempit yang membatasi
pandangan kita saat kita memandang dari depan (satu titik pandang). Oleh
sebab itu, sering ada bonsai yang apik saat dilihat langsung, tetapi
kurang indah saat difoto.
Saat kita membentuk ranting dan daun
untuk garis canopy, yang kita perhatikan adalah bagaimana menyusun
ranting, anak ranting serta daun supaya menciptakan suatu tata ruang
yang harmonis dan berimbang saat kita memandang bonsai tersebut dari
sudut pandang tertentu dalam suatu bingkai pandang.
Demikian juga
saat kita meletakkan bonsai tersebut pada wadah tanamnya, sebenarnya
yang kita ciptakan adalah keharmonisan dan keseimbangan penampilan,
bukan saja dalam pandangan 3-dimensi, tetapi juga pada pandangan datar
yang di dalam seni lukis disebut “Picture Plane”.
Bila kita
membuat sebuah karya bonsai gaya grouping dengan susunan perbukitan,
batu-batuan, sungai atau jalan setapak, di sini kita dituntut untuk
menguasai hukum perspektif supaya tata ruang dalam wadah yang sempit
tersebut tetap dapat mencerminkan panorama yang terkesan mempunyai
kedalaman yang lebih jauh.
"Susunan dan setting semua elemen pohon tersebut beserta wadah tanam
menciptakan komposisi desain. Konfigurasi percabangan dan perantingan
dengan pengarahannya menciptakan dimensi pohon; tetapi dengan tata-letak
tertentu, termasuk over-lapping percabangan dan kontur tanah, kita
dapat menciptakan efek perspektif yang indah dengan ilusi kedalaman yang
nyata walau hanya dilihat dari foto. Warna dan kontur adalah bagian
dari elemen yang dapat dipakai dalam teori perspektif."
Yang
menarik adalah, kenyataannya teori perspektif sudah terlihat pada
lukisan Cina dari abad-11 (dinasti Sung) walaupun belum sempurna secara
matematik; sedangkan pada lukisan Jepang, teori tersebut baru muncul
mulai abad-14. Teori ini mulai dikenal secara ilmiah pada jaman
Renaissance dengan teori “
Linear Perspective”, kemudian baru berkembang pesat di abad-15 pada jaman Romawi berjaya khususnya teori “
Curvilinear Perspective” yang ditemukan oleh
Leonardo da Vinci.
Hukum perspektif : “
Semakin menjauhnya suatu objek, maka akan semakin mengecil hingga pada titik di mana objek tersebut menghilang – disebut “
Vanishing Point” (VP) di mana dari titik tersebut ditarik garis linearnya. Garis horizon (
Horizon Line)
juga sangat mempengaruhi perspektif, semakin rendah letak Horizon Line
(HL), objek akan semakin terkesan tinggi dan monumental. Konsep
tersebut berlaku untuk seni Bonsai pada tinggi rendahnya titik pandang
kita, dan hal ini berpengaruh langsung pada pengaturan dimensi serta
komposisi cabang dan ranting.
Kita sering memakai istilah “
nge-pen “
dalam menjelaskan bentuk batang yang mengecil dari bawah ke atas pada
sebuah Bonsai, kemudian menurut text-book, ukuran cabang harus semakin
mengecil ke bagian atas dan letaknya juga harus semakin mendekat. Apa
maksud dari aturan tersebut ?
Salah satunya adalah alasan hukum
perspective, dengan asumsi kita selalu melihat pohon dari bawah ke atas
pada jarak yang relatif dekat, sehingga letak dan jarak setiap cabang
mulai dari bawah ke atas akan kelihatan semakin mendekat dan ukuran
batang akan kelihatan semakin mengecil ke atas.
Temuan “
Curvilinear Perspective”
sangat berguna bagi seni Bonsai karena wadah tanam Bonsai sangat sempit
dan bingkai pandang kita sangat terbatas terutama dalam tehnik gaya
Grouping.
Dengan teori “
Curvilinear Perspective”, penataan
dapat dimanipulasi dengan distorsi sudut pandang sehingga efek pandangan
terkesan luas dan kedalaman terkesan lebih jauh. Efek tersebut sama
dengan bila kita memotret dengan memakai lensa “
wide angle”.
Komposisi
pada seni bonsai, sama juga dengan seni lukis yang percaya bahwa konsep
asimetris tetapi berimbang adalah bentuk yang paling dinamis dan tidak
membosankan, termasuk teori komposisi “
Dramatic Diagonals”; demikian juga bingkai pandang yang dikenal dengan rumus “
Golden Rectangle”. Dalam hal ini, “
Visual Balance” yang dicari.
Sebenarnya saat kita training cabang dan ranting, terutama bonsai Cina gaya “Lingnan”, sering sekali diterapkan teori “
Cuvilinear Composition” untuk mendramatisir suatu gaya secara alamiah.
Masih
banyak sekali yang bisa kita pelajari dari teori dan konsep dimensi,
komposisi dan perspektif, dan seyogianya dikuasai oleh para seniman
bonsai karena sangat relevan dan berfaedah bagi pengembangan karya seni
bonsai yang kita tekuni sehingga pijakan kita lebih solid.
Mari kita
bersama-sama menggali lebih dalam, karena semakin banyak yang kita
pelajari, sepertinya semakin banyak yang belum kita pehami !..terbukti
seni bonsai adalah seni multi-disiplin.
** Baca juga artikel “Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing”
Catatan :
Bila
anda memiliki kaca-mata 3-D yg berwarna merah-biru, anda dapat melihat
foto di bawah ini dalam efek 3-dimensi dengan komposisi dan perspektif
yang jelas...
Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di
Forum Hobby Indonesia