Rabu, 11 September 2013

progres kedua cangkokan serut

Prakarya pot semen terbaru yang lebih ringan sudah jadi, masih belum finishing, sekalian menguji ketahanannya, saya mencari mangsa yang kira kira cocok buat ujicoba. Kayaknya si cangkokan serut ini cocok buat kelici percobaan. Sekalian wiring ulang, memotong dan merombak sedikit percabangan, si serut sukses nangkring di rumah baru yang setengah jadi.


foto sebelas bulan yang lalu
Silahkan lihat hasil settingan ulangnya, masih belum rapi cukurannya, karena saat saya memindahkan si serut ini, saya juga mengurangi volume akarnya agak banyak, jadi sempet stress beberapa hari, ditandai dengan rontoknya sebagian besar daun. Foto ini saya ambil saat daun daun barunya bermunculan.



Nanti saya update lagi, masih ada beberapa cabang, terutama bagian atas yang sepertinya lebih bagus di hilangkan. Bersambung lagi..........

Selasa, 10 September 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai Gaya Grouping


 Gumpalan bebatuan…duduk diam,
Rumpunan pepohonan…tegak ragam;
Ku-Agungkan Kau ciptaan alam,
Kupeluk Kau dalam pujian…!



Alam kita kaya dengan sumber inspirasi yang dapat dituangkan ke dalam seni Bonsai, salah satunya adalah gaya Grouping. Sumber inspirasi dapat kita peroleh saat kita berlibur ke pegunungan, perkebunan, danau, pulai kecil maupun ke pedesaan; bahkan melalui imajinasi kita tentang alam antah-berantah.

Esensi dari Bonsai gaya Grouping adalah visualisasi cuplikan suatu bagian pemandangan habitat sekelompok pohon bernuansa alam nyata yang mencerminkan suasana tertentu yang indah dan harmonis.

Secara umum, Grouping dapat dibagi menjadi tiga kelompok dasar sbb.:

• Pandangan Dekat (Close-up View)
• Pandangan Panorama (Landscape View)
• Padangan Hutan (Forest View)

Masing-masing kelompok memiliki karakter tersendiri sehingga memberikan nuansa yang berbeda pada karya yang diciptakan; dan dari setiap kelompok tersebut dapat dibuat variasi yang tidak terbatas sesuai imajinasi kita.

Pandangan Dekat (Close-up View)


- Jumlah pohon relatif sedikit.
- Detail anatomi percabangan dan kanopi pohon secara individu lebih jelas.
- Titik focal berada pada pohon utama yang paling dominan sehingga detail anatomi pohon utama tersebut menjadi sangat penting.
- Perbedaan ukuran antara pohon utama dengan pohon-pohon pendukung lainnya sangat kontras.
- Garis horizon (Horizon Line) serta garis Linear Perspective tidak terlihat jelas sehingga efek ilusi kedalaman ruang tidak terlalu tegas.

Pandangan Panorama (Landscape View) 


- Jumlah pohon relatif lebih banyak.
- Titik focal berada pada pohon atau kelompok pohon yang paling dominan.
- Gerak irama secara keseluruhan lebih jelas.
- Lebih mengutamakan penataan ruang komposisi dan dimensi dari pada detail anatomi individu pohon.
- Penataan garis perspektif lebih jelas.
- Nuansa cuplikan suatu pemandangan tertentu sangat tegas.

Pandangan Hutan (Forest View)
 

- Jumlah pohon relatif banyak.
- Titik focal lebih pada kelompok pohon atau bagian yang mempunyai puncak paling tinggi dan lebat.
- Perbedaan ukuran antara satu pohon dengan pohon lain tidak terlalu kontras.
- Lebih utamakan bentuk silhouette kanopi kelompok pohon secara keseluruhan dari pada kanopi individu pohon.
- Detail anatomi percabangan masing-masing pohon tidak terlalu penting.
- Garis perspektif bisa saja tidak terlalu jelas karena lebih utamakan komposisi bidang pandang 2-dimensi secara keseluruhan.

Untuk dapat membuat bonsai gaya grouping yang bagus, ada beberapa instrumen dasar sebagai konsep dan tehnik pembuatan yang perlu kita kuasa yaitu :

Komposisi

Komposisi pada Grouping adalah penataan ruang pada bidang pandang 2-dimensi yaitu penataan tata letak setiap pohon dengan titik pandang dari depan.
Langkah pertama adalah membuat tata letak kasar untuk suatu pemandangan tertentu yang ingin kita ciptakan, seperti halnya kita membuat ilustrasi atau sketsa dasar pada sebuah kanvas lukisan.

Pada tahap ini, sementara kita abaikan dulu tata letak pohon dari sudut pandang atas supaya memudahkan kita dalam mevisualisasikan imajinasi secara bertahap.
Salah satu tujuan utama pada tahap ini adalah menentukan focus utama pandangan serta gerak irama dari pohon-pohon tersebut. Keseimbangan optik sangat penting dalam komposisi dan penataan ruang kosong menjadi salah satu bagian penting dalam komposisi sehingga terkesan indah, harmonis dan dinamis. Komposisi yang dianggap paling indah dan tidak membosankan adalah komposisi yang berbentuk segi-tiga tidak sama kaki (keseimbangan yang asimetris).

Grouping juga harus mempunyai gerak irama (flow) yang jelas yang terbentuk oleh letak focus pandangan, gerak irama setiap pohon yang dipakai serta penataan ruang kosong.

Setelah komposisi dasar telah terbentuk, kita melangkah ke tahap berikutnya dalam penataan dimensi.

Dimensi

Dimensi pada Grouping adalah formasi pohon-pohon pada permukaan wadah yang dipandang dari atas. Pada tahap ini, tanpa merobah sketsa dasar komposisi, kita mulai mengatur peletakan setiap pohon pada bagian wadah tertentu, jarak setiap pohon atau kelompok pohon sehingga terbentuk sebuah konfigurasi yang dinamis yang selanjutnya sangat penting untuk membentuk perspektif.

Dimensi yang baik pada Grouping adalah berusaha menghindari jarak yang sama pada setiap pohon atau kelompok pohon, dan hindari terbentuknya suatu garis lurus yang horizontal atau vertikal. Sebaiknya susunan pohon-pohon tersebut berbentuk garis yang zigzag.

Formasi keseluruhan sebaiknya berbentuk cekungan ke bagian belakang untuk menciptakan efek pandang yang lebih luas.

Perspektif


Perspektif pada Grouping adalah ilusi pandangan terhadap kedalaman ruang yang tercipta oleh tata letak pohon, skala, ukuran dan proporsi pohon serta kontur permukaan tanah.
Pada tahap ini kita mulai perhatikan konfigurasi setiap pohon atau kelompok pohon yang membentuk ruang-ruang kosong serta kontur setiap bagian permukaan tanah untuk menciptakan ilusi jarak ruang. Ukuran tinggi-rendah serta besar-kecil setiap pohon menjadi element penting dalam membentuk ilusi jarak pandang objek sesuai dengan hukum teori perspektif tentang Horizon Line, Vanishing Point, Linear Perspective dan Curvilinear Perspective.

Ukuran pohon yang lebih kecil tidak selalu harus di belakang karena selain background, penataan foreground-pun sangat penting untuk menciptakan sebuah pemandangan yang apik.

Catatan :

Untuk lebih detail mengenai konsep tersebut di atas, silahkan baca juga artikel "Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing" serta "Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai".

Konsep yang sama bisa diterapkan juga pada bonsai gaya raft...



Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Jumat, 06 September 2013

Cuci mata di bangkok part 3 : jeprat jepret di tor kor

Puas melototin bonsai di episode 2 kemarin sob ???, nyok kite lanjut ke perjalanan berikutnya, saya menyeberang ke tor kor, tepat diseberang dari toko bonsai.

Tor kor market adalah salah satu destinasi wisata di bangkok, yang menyediakan aneka buah dan sayuran segar produk asli thailand. Saya tidak masuk ke dalam pasar ini, melainkan hanya berkeliling di depannya, yang menjadi pangkalan dari aneka penjual tanaman beraneka ragam.

Berbeda dari chatuchak plants market yang hanya buka hari rabu dan kamis, pasar tanaman ini buka setiap hari. Daripada lama lama cas cis cusnya, mending langsung pelototin hasil jepretan kamera butut saya aja, biarkan gambar yang bercerita......















anting putri
lohansung
lohansung
babon anting putri
babon anting putri





soka
sampai disini, nggak afdhol kalo pulang ke tanah air nggak bawa kenang kenangan, jadi setelah capek muter, saya memutuskan membeli bibit anting putri, kita sambung minggu depan aja ya, sekalian saya kasih foto foto cara membawa atau lebih tepatnya " menyelundupkan " tanaman ke pesawat, heehehehe.....


Baca posting sebelumnya :

Cuci mata di bangkok part 1 : chatuchak plants market
Cuci mata di bangkok part 2 : ngiler bonsai di kamphaeng phet road

Rabu, 04 September 2013

Rombak ulang si kawista #2

Hampir sepuluh bulan yang lalu, kawista muda ini kontet mendadak, dengan pertumbuhan yang lambat dan kurang menggembirakan, dan juga hasil yang masih kurang sreg di hati.

Sebulanan yang lalu sambil copot kawat, terbersit ide baru, kebetulan juga baru bikin eksperimen pot semen antik, model corong mangap....( bahasa apa ini ya ?? ), kayaknya asyik kalo dikawinin nih, corong mangap model bibir mick jagger manyun, ngeluarin lidah menjulur menjilat ke bawah, hallahh.....hehehehe, maaf sobat, kalo ngelantur bahasanya.

Monggo di saksikan, hasil jepretan kamera legendaris saya yang terkini, mengabadikan hasil oprekan terbaru yang masih mencari jati diri, kebetulan juga kawisnya baru trubus,mulai seger lagi, setelah kemaren kemaren kaya kurang gizi.





 oke ya, nanti kapan kapan saya update lagi, moga aja oprekan yang sekarang lebih sip, nggak ada perubahan lagi, maklum laah, newbie, suka galau....

wassalam

Selasa, 03 September 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai Bagaimana Yang Disebut Bagus ?

Tidak semua tanaman yang dibentuk semau kita dan ditanam dalam pot bisa disebut sebagai bonsai. Bonsai yang bagus harus memenuhi beberapa kriteria dasar, dan bonsai seindah apapun bila tidak disertai dengan wadah yang sesuai, maka belum bisa disebut sebagai bonsai yang bagus.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa bonsai yang bagus sekedar pohon kerdil yang dibentuk rapi dan ditanam dalam pot; padahal untuk membuat sebuah karya bonsai yang bagus, banyak disiplin ilmu lain yang harus kita kuasai antara lain pengetahuan estetika seni, ilmu botani termasuk fisiologi dan morfologi tanaman serta kejelian mengobservasi fenomena alam.

Sebuah karya bonsai dapat dikatakan bagus kalau memenuhi tiga persyaratan dasar yaitu: keindahan artistic, hukum hortikultura serta makna tersirat. Kita dapat membentuk sebatang pohon yang penuh keroposan pada batang dan kita tanam dalam pot pelastik dengan posisi rebah dengan perantingan dan perdaunan yang berantakan dengan pesan tema sebatang pohon tua di alam yang roboh karena diterpa angin topan. Karya tersebut cukup bermakna, tetapi kalau tidak indah, maka tidak dapat disebut sebagai bonsai apalagi wadah tanamnya belum tentu sesuai. Kita juga dapat membuat sekelompok pohon dari berbagai jenis tanaman dengan konfigurasi semaunya dan ditanam dalam pot keramik yang indah. Karya trsebut cukup bermakna dan mencerminkan fenomena alam nyata sesuai hukum hortikultura; tetapi belum dapat disebut sebagai karya bonsai yang bagus karena konfigurasinya tidak indah dan harmonis. Jadi kesimpulannya adalah bahwa keindahan artistik adalah persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam sebuah karya bonsai walaupun mungkin hukum hortikultura dan pesan maknanya tidak terlalu kentara.

Keindahan artistik dari pohon tersebut mutlak disandingkan dengan wadah tanam yang sesuai; tanpa kombinasi yang terpadu secara harmonis antara pohon dengan wadah tanam, karya tersebut tetap belum dapat dikatakan sebagai karya bonsai yang bagus !

Yang dimaksud dengan hukum hortikultura di seni bonsai ada tiga aspek yaitu: karakter dasar species, aspek kondisi lingkungan serta faktor atmospheric alam.

Setiap jenis tanaman mempunyai karakter dan bentuk dasar sendiri, umpamanya pohon asam berbeda dengan pohon kapok, acasia berbeda dengan cemara udang; tetapi jenis tanaman yang sama dapat berobah bentuknya akibat kondisi lingkungan yang berbeda di mana pohon tersebut tumbuh. Pohon beringin yang tumbuh di lapangan terbuka akan berbeda bentuknya dengan beringin yang tumbuh di pinggir sungai, pohon wahong yang tumbuh di perbukitan batu berbeda bentuknya dengan wahong yang tumbuh di dataran rendah. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor sumber air, kondisi tanah maupun arah sinar matahari dan lain-lain. Selain kondisi lingkungan tersebut di atas, bentuk sebatang pohon juga dapat diakibatkan oleh gangguan dari luar, umpamanya karena di sambar petir, akibat penyakit, gangguan manusia atau binatang, terpaan ombak, angin ataupun salju; sehingga bentuk pohon pinus yang tumbuh di pegunungan tropis berbeda dengan pinus yang tumbuh di pegunungan Huangshan di Cina.

Ada hal lain yang sangat fundamental yang mengakibatkan perbedaan karakter dan bentuk pohon yaitu aspek fisiologi dan morfologi tanaman. Kedua aspek tersebut adalah sub-disiplin ilmu botani yang mempelajari fisiologi tanaman serta segala aspek yang mempengaruhi bentuk pertumbuhan pohon. Pohon jenis berdaun jarum mempunyai fisiologi dan aspek morfologi yang berbeda dengan pohon jenis berdaun lebar; itu sebabnya pohon pinus atau cemara mempunyai karakter anatomi dan bentuk dasar yang sangat berbeda dengan pohon beringin mulai dari garis batangnya sampai kepada garis percabangannya.

Pengetahuan tersebut sangat penting bagi para seniman bonsai supaya dapat membentuk bonsai yang lebih dekat dengan kenyataan alam sehingga karakter dan nuansa yang dihasilkan akan lebih relevan. Walaupun pada batas tertentu jenis tanaman bukan menjadi faktor penting dalam membentuk sebuah design bonsai, tetapi seyogianya kita hindari mendesign bonsai jenis daun lebar dengan bentuk pohon jenis berdaun jarum karena kedua jenis tersebut memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Contohnya, akan sangat aneh bila kita mendesign bonsai beringan seperti karakter cemara dengan liukan dan keringannya; atau sebaliknya kita design bonsai cemara seperti pohon acasia.

Dalam kenyataan, kesalahan tersebut yang sering terjadi terutama dalam cara membentuk percabangan dan perantingan. Hal tersebut diakibatkan karena kebanyakan dari kita mempelajari seni bonsai dari buku Jepang yang kebanyakan dengan contoh pohon jenis berdaun jarum atau jenis maple yang karakternya berbeda dengan pohon asam; sehingga saring kita mendesign semua pohon kita dengan pelintiran batang dan cabang seperti cemara atau bulat rapi seperti bentuk pohon maple. Kesalahan mendasar tersebut yang menghilangkan karakter pohon tropis kita kecuali beberapa jenis pohon yang memang memilki karakter dasar yang unik seperti santigi dan wahong laut.

Semakin banyak disiplin ilmu yang kita pelajari terutama yang berkaitan dengan estetika seni dan botani, akan semakin luas wawasan kita sehingga kemampuan kita dalam mendesign sebuah karya bonsai akan semakin meningkat; yang akhirnya akan mampu melahirkan karya bonsai yang semakin dekat dengan fenomena alam, berjiwa, bernuansa keindahan artistic dengan kandungan makna tersirat layaknya sebuah karya seni, dan bukan kerajinan tangan yang hanya dinilai kerapian dan tingkat kesulitan pembuatannya.


 Buatlah karya bonsai yang indah, mencerminkan fenomena alam yang relevan dengan makna yang berjiwa…dan yang paling penting,karya bonsai yang bagus tidak dapat terpisahkan dari tiga unsur utamayaitu pohon, wadah dan tatakan.
( Salah satu konsep dasar Penjing : Yi Shu – Er Pen – San Ji Jia )


Selamat berkarya !


Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...