Tampilkan postingan dengan label tips n trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips n trik. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Artikel Robert Steven : Santigi Kang Fajri - Restyling

Ini adalah Santigi Kang Fajri yang saya robah saat acara Forum Diskusi Seni Bonsai Indonesia pada tgl. 17 Maret yg baru lalu, dengan dasar pemikirannya....

Foto awal saat dikirim ke saya beberapa waktu yll untuk diminta komentar :

Image

Ini kondisi yg telah sedikit direposisi (posisinya sedikit diturunkan) saat dipamerkan di Cirebon minggu yll :

Image

Ini adalah foto setelah dirobah :

Image

Dasar pemikirannya :

- Design awalnya terkesan adanya jebakan mind-set seakan-akan setiap bonsai harus ada "mahkota"nya, sehingga sering kita dengar pertanyaan : "Mana mahkotanya ? Padahal tidak ada keharusan bahwa pohon harus mempunyai "mahkota", yang ada adalah "tajuk".

- Ini adalah pohon tropis. Pohon tropis tidak semestinya mempunyai "apex" yang berbentuk segi-tiga, karena hanya pohon jenis cemara yg memiliki tajuk berbentuk segi tiga sehubungan dengan sifat "apical dominant" dari struktur pohon. Apex pohon tropis seharusnya berbentuk terbuka melebar.

- Coba kita bayangkan..kalau di alam, kira-kira faktor apa yg menyebabkan batang pohon ini berliuk dan melintir demikian dengan bagian atas tertekan keras ke bawah ? Apapun faktornya, yg jelas adalah suatu tekanan alam yg terus menerus...dan kalau demikian, kemungkinannya sangat kecil bahwa pohon tersebut akan memiliki apex yg berbentuk segi tiga mengkrucut ke atas.

- Secara estetika seni, pohon tersebut memiliki 2 karakter yg berbeda yg disatukan secara kurang terpadu dan kurang harmonis. Garis batang yang meliuk adalah karakter garis yg mengesankan santai, relax, casual, dinamis; sedangan bentuk perdaunannya ("mahkota") adalah bentuk yang mengesankan kesempurnaan, serius, formal, tenang... Hasil dari gabungan kedua karakter yg berbeda menyebabkan kesan yg kurang harmonis secara keseluruhan.

- Coba kita lihat lagi tekstur batangnya. Semua detail tekstur batang terlihat sangat jelas seperti kita melihat pohon tersebut dari jarak dekat; sedangkan garis tepi perdaunannya begitu rapi sempurna. Coba kita lihat di alam, biar selebat apapun pohon tersebut, bila dilihat dari jarak dekat, maka tidak akan terlihar begitu rapi, sebaliknya akan ada kontur permukaan dengan garis tepi perdaunannya yg tidak beraturan. Hanya pohon yg dilihat dari jarak sangat jauh yg akan terkesan sangat rapi garis tepi perdaunannya (siloit). Oleh sebab itu, pohon ini terkesan kurang alami.

Dari alasan-alasan tersebut di atas, maka saya koreksi, baik bentuk tajuk secara keseluruhan maupun wadahnya; karena pot yg dipakai sekarang juga kurang harmonis, terlalu kaku, tidak sesuai dengan karakter pohon yg berkarakter dinamis; terlalu tebal dan terlalu dalam, sehingga terkesan terlalu berat di bawah dan "focal Point" pohon terbias...atau tersaingi oleh potnya.

...dan ini adalah foto simulasi saya dengan hasil akhir yang saya harapkan :

Image 





 Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Rabu, 23 Oktober 2013

The first chapter : A prologue to a trail of an ancient glory

Buset daaah, pake basa ingris inggrisan, hehehe. Sekali kali, bergaya dikit ah, belajar bahasa inggris ama mbah gugel. Tapi judulnya aja ya, postingnya mah teteup indonesia buanget.

Menyambung edisi nangkring menangkring, setelah edisi beringin nangkring di tiang pondasi mangkrak, lalu disambung ke beringin nangkring di tembok pagar, saatnya membuat tantangan yang lebih sulit.

Idenya adalah menduplikasi apa yang terjadi di angkor wat, sebuah jejak kejayaan kerajaan masa silam yang masih bertahan hingga kini.




 Saya tidak menjiplak mentah mentah desain reruntuhan gapura angkor wat, tapi karena memang batas kemampuan imajinasi saya agak mepet alias nggak nyampai, hihihi, maka saya desain reruntuhan gapura dengan desain campur campur sekenanya, apa aja yang nyangkut di pikiran saya.

Memakai batu berundak ala machu picchu, gerbang balok model romawi hingga patung sri loro blonyo khas jawa, tapi sumpah, saya agak jijik dengan patung bikinan saya, hahaha, jauh banget hasilnya dengan apa yang saya imajinasikan, tak apalah, jelek jelek karya sendiri, lagian, saya nggak ada bakat jadi pematung. Yang penring ide desain saya, sobat bisa pahami.

Memakai bata ringan lagi, kali ini mengambil jatahnya mas tukang bangunan, hehehe, alias baru, bukan sisa lagi. Saya potong potong sesuai keinginan,...



Ide gapura di atas, masih kurang memuaskan saya, akhirnya saya bongkar lagi. Inilah hasil akhir model gapuranya, setelah di ukir ukir dikit, silahkan dicaci maki, hehehe


Saatnya bikin pot semen custom, dan mempersiapkan beringin tangkringers nya, kita sambung lain hari ya, wassalam

Jumat, 18 Oktober 2013

Beringin nangkring di tembok pagar episode kedua

Pot training made in sendiri sudah kering. Sudah siap untuk menampung tembok dan beringin tangkringer.

Sebelumnya saya kurang puas dengan tampilan temboknya, jadi saya finishing dengan cat akrilik, sehingga tampak lebih realistis, berikut ini gambarnya.

Gambar sebelum di cat


Sesudah dicat warna bata, ditambah aksen hitam kumuh dan hijau, menandakan tembok pagar tua yang lumutan tak terawat.


Untuk beringin tangkringer nya, satu kandidat beringin karet dollar, yang sudah cukup lama menghuni pekarangan saya, tanpa pertumbuhan batang yang terlalu signifikan.

Tampak belakang


Tampak depan


Sebelum nangkring, cukur rambut ke salon dulu......


Saatnya menyatukan si dollar dengan tembok imitasi, kebetulan sekali posisi akar hanya perlu sedikit penyesuaian, dan ktrang dari setengah jam, si karet dollar sudah nangkring doyong dengan anggunnya.


Seperti biasa, sampai titik ini, episodenya kita hentikan dulu, sembari menunggu si dollar memeluk erat tunggangan barunya. Saatnya masuk ruang karantina, saya akan update perkembangannya di lain waktu. Wassalam

Rabu, 16 Oktober 2013

Beringin nangkring di tembok pagar episode pertama

Kayaknya, bulan bulan ini sobat semua akan sering saya ajak nangkring. Hehehe, gara gara liat tukang bangunan nangkring di tembok dan masih berhubungan dengan posting beringin nangkring yang lalu, sebuah ide kembali tercetus.

 Kurang lebih idenya akan seperti gambar gambar ini




Untuk merealisasikan ide ini, tentunya miniatur pagarnya kudu di siapin dulu. Masih menggunakan sisa bata ringan, dan masih mengganggu kerja para tukang bangunan, saya rancang dulu penampang pagarnya.


Saya membuat panduan alur bata menggunakan spidol dan penggaris


Lalu membuat penampang coakan menggunakan gergaji agar terlihat lebih realistis, hasilnya seperti dibawah ini,

Dan untuk membuat efek sambungan bata yang lebih dramatis, pada coakan alurnya, saya olesi cairan semen.


oke, bersambung dulu ya, nunggu pot customnya siap dulu, Insyaallah akan saya sambung dalam tempo yang sesingkat singkatnya

Senin, 14 Oktober 2013

Artikel Robert Steven : Pentingnya elemen display seni bonsai

Bonsai karya Tony Tickle dari Inggris di pameran EBA...

Image


Ini adalah contoh konkret mengenai pentingnya wadah tanam serta elemen display dalam seni bonsai yang sering saya bahas atau kritik.

Coba bandingkan dengan salah satu bonsai di pameran kita. Bonsai yg mana yg lebih bagus, dan bonsai yg mana yg mempunyai nilai seni yg lebih tinggi ?

Image


Apakah kita tetap beranggapan bahwa kwalitas bonsai tetap yg terpenting dan elemen lain bisa diabaikan ? Menurut saya, kwalitas dan nilai sebuah karya bonsai bukan saja pada pohon, tetapi penampilan secara keseluruhan secara harmonis...

Pertanyaan, bila kedua bonsai tersebut ditampilkan bersamaan pada satu kontes, yg mana yg akan anda berikan nilai lebih tinggi ?

Sekedar renungan untuk kita semua...

___________________________________________________________________________________

Coba lihat di bawah ini, saya mencoba membuat simulasi dengan pohon yg sama, tetapi diganti potnya dan tata display yg berbeda saat pameran..Bagaimana pendapat anda sekarang ?

Image


Image

 __________________________________________________________________________________

 Sekedar perbandingan bahwa beberapa negara tetangga kita juga sudah sangat mengerti dan menghargai elemen display saat pameran, termasuk negara-negara yg kita anggap bonsai mereka masih di bawah kita...

Yang penting bukan saja kesadaran anggota peserta, tetapi kesadaran penyelenggara..

Thailand :

Image


Vietnam :

Image


Filipina :

Image


Singapore :

Image


India :

Image


Malaysia :

Image


Taiwan :

Image


...dan, maaf...Indonesia :

Image


Sudah ada sebagian anggota prserta kita yg sudah mengerti dan melakukannya, tetapi sayang justru panitia yg belum mengerti cara apresiasinya.
Mudah-mudahan ini adalah cambuk untuk kita semua, supaya jangan sampai mutu bonsai kita yg begitu bagus tidak diapresiasi secara memadai.



Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Sabtu, 05 Oktober 2013

sebuah ide : miniatur beringin nangkring di atas pondasi bangunan mangkrak episode 2

Assalamualaikum sohib semua, saatnya kita sambung kembali posting beringin nangkring yang lalu.

Miniatur pondasi sudah jadi, pot made in sendiri sudah siap, waktunya ngubek ubek halaman depan, cari korban yang bersedia nangkring tanpa syarat, hehehehe.

Yupp, itu dia, karet dollar, yang kaga punya dollar sama sekali, alias recehan, menarik perhatian saya, masih kecil sih memang, nggak lebih dari ukuran jempol diameter batangnya, tapi ada satu akar gantung yang sangat panjang terjuntai, kayaknya asyik buat dibikinin ayunan tarzan kota.


Langkah pertama, saya langsung tarik si dollar, saya pelorotin celananya tanpa ampun lalu menyingkap bulu bulu halusnya ( walaah, kebanyakan baca lampu merah nih, bahasanya jadi kacau ), maksudnya saya pisahkan si dollar dari tanah, sehingga terlihat akar halusnya, begitchuuu...........

Puas memandangi si dollar yang telanjang, sambil mencoba aneka posisi dan gaya ( ngeres lagi otaknya ), posisi nangkring ideal sudah didapat.


Tak lupa, saya ikat badan si dollar dengan kawat supaya tidak meronta dan dapat posisi pandang yang aduhaiii.


Langkah terakhir adalah memasukkan akar gantung yang panjang ke dasar pondasi, yang sebelumnya sudah saya bor untuk memudahkan si akar berdiri lurus dengan manisnya. Selesai semua, lalu saya tutup kaki kaki mulusnya dengan kain yang tak terpakai. Tak lupa sisipkan sedikit media tanam, supaya si dollar kecil tidak kaget nantinya.


Sampai disini, episode dua ini kita hentikan, sambil menunggu si dollar ini pulih, sehingga kaki kaki kecilnya bisa mencengkeram pondasi lalu merambat sampai kebawah dan mulai membesar. Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Oke sobat, sudah lemes nih, buat yang belum tujuh belas tahun harap didampingi orang tua kalo baca episode ini, karena penuh dengan bahasa ngeres dan tak senonoh, hahahaha

Posting sebelumnya :

Kamis, 03 Oktober 2013

sebuah ide : miniatur beringin nangkring di atas pondasi bangunan mangkrak episode 1



Sudah dua mingguan ini rumah mungil saya penuh dengan debu dan hiruk pikuk tukang bangunan. Ya, saya sedang merenovasi halaman belakang rumah yang seuprit, rencananya sih mau di dak, lumayan buat tempat jemuran dan sekalian menyediakan tempat yang lebih lega buat bonggol bonggol klangenan saya yang berdesakan menumpuk di halaman depan.

 Sembari ngopi dan bengong, mantengin tukang bangunan yang lagi ngecor pondasi, mata saya tertumbuk pada sisa potongan bata ringan yang mangkrak sendirian di pojokan.


Pikiran saya yang suka iseng melanglang buana, teringat akan krisis ekonomi yang membuat proyek proyek bangunan mangkrak, atau pondasi tiang pancang monorel yang terbengkalai hingga bertahun tahun lamanya, seperti ilustrasi di bawah ini lah, kurang lebihnya...



Teringat akan beberapa stok babon beringin yang antri menunggu sentuhan inspirasi di halaman depan, dan juga mengingat karakter pohon beringin yang suka nangkring sembarangan di tembok atau beton,




terbersit sebuah ide, membuat miniatur beringin nangkring di atas pondasi bangunan mangkrak, alih alih miniatur pohon diatas batu alias gaya bonsai root over the rock yang sudah umum.

Oke, saatnya merealisasikan ide, dengan gesit, saya mempersiapkan bahan bahan yang diperlukan, lirik sana lirik sini, cari bahan sisa, sambil mengganggu konsentrasi mas mas tukang bangunan, hhehehe, tahap pertama pembuatan miniatur pondasi selesai.

Berikut dokumentasi si canon butut  saya........

Langkah pertama, memotong sisa bata ringan menjadi dua bagian


Lalu memotong sisa besi yang sudah tak terpakai secukupnya


Selanjutnya mengebor bata ringan dan sebagai dudukan besi


 Dan langkah terakhir, menyatukan semuanya dengan semen, membuatnya seolah olah menjadi tiang pancang pondasi besi yang berbalut beton. Hehehe, maap kalau kurang mirip, seridaknya sobat bisa mengerti alur pemikiran saya. Nah, gambar dibawah ini adalah hasilnya





Sambil menunggu pondasi jadi jadian ini kering, kita akan sambung lagi lain hari...................

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...