Tampilkan postingan dengan label Info bonsai terkini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info bonsai terkini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Bonsai Jember Diminati Hingga Manca Negara


Reporter : Oryza A. Wirawan 

Jember (beritajatim.com) - Pohon bonsai yang dibudidayakan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, diminati penggemar pohon itu di luar negeri. Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) merangkul perguruan tinggi.

Jumlah penggemar bonsai di Jember dari tahun ke tahun bertambah. Saat ini yang aktif di PPBI dan rutin menggelar pertemuan sekitar 70-80 orang. Namun jika dihitung secara keseluruhan, penggemar bonsai di Jember mencapai 200 orang.

Ketua PPBI Moch. Kholil mengatakan, di Jember banyak ditemui prospek (bahan untuk bonsai). Namun jumlah prospek terancam, menyusut, mengingat banyak kolektor dari berbagai kota membeli prospek tersebut dan dibawa ke luar Jember. "Jadi bisa dikatakan pasar Jember besar, karena sampai manca negara. Ada beberapa pohon dikirim ke Malaysia," katanya. Harganya relatif beragam.

Kholil sendiri sebenarnya tak ingin pengembangan bonsai berorientasi bisnis semata. Ia ingin orientasi pelestarian pohon di Jember lebih dikedepankan. "Kami ingin melestarikan bonsai di Jember sendiri," katanya.

Untuk memperkenalkan bonsai ke publik yang lebih luas, PPBI bekerjasama dengan perguruan tinggi. PPBI menggelar lomba bonsai Juli 2012 lalu di Universitas Jember. Selain itu, PPBI juga bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada dan Politeknik Negeri Malang.

Kholil mengatakan, dunia bonsai adalah dunia seni. "Banyak ilmu yang kita berikan ke masyarakat. Bagaimana melestarikan alam agar mereka mengetahui bahwa pohon perlu dilestarikan untuk kepentinghan kita bersama. Jadi tak mudah menebang pohon, karena tahu kepentingan manusia akan pohon itu," katanya. [wir]

disadur dari beritajatim

Kamis, 07 Maret 2013

Menumbuhkan Akar Bonsai di Batu



Bonsai pohon di batu menciptakan kesan pepohonan yang tumbuh di jurang atau lereng terjal. Pohon tumbuh di batu karang juga menciptakan kesan pohon itu tua, liar, dan alami.
Penghijauan, imbauan berkebun, hingga kontribusi oksigen lama dilakukan para pebonsai. Selain menikmati keindahan dan produksi buah, pebonsai memilih keindahan pohon sebagai kesukaan tersendiri. Meski pohon yang dibonsai dapat berbuah, seperti kawista, gondorukem, atau dewandaru, tetap saja buahnya itu diharapkan dapat mendukung keindahannya.
Pohon bonsai di atas batu adalah salah satu alternatif dalam membonsai. Untuk membonsai, diperlukan batu karang. Menanam pohon yang dibonsai yang akarnya tumbuh di batu bertujuan membuat kesamaan imajinasi dengan pohon yang tumbuh di puncak bukit, lereng, gua, bahkan lembah terjal.
Pola imajinasi ini sebenarnya merupakan tindakan meniru kenyataan, mimesis, atau mimetik, mengikuti pola alami kendati dalam bentuk miniatur. Itulah sebabnya bonsai di dalam dunia tanaman dapat dikatakan sebagai tindakan seni.
Soal gaya bonsai di atas batu karang, tekstur batu karang diharapkan memberi kemungkinan untuk merambatnya akar pohon yang dibonsai. Selain itu, batu karang lebih menyimpan air sehingga menjadi cadangan untuk pohon bertahan hidup di musim panas yang dapat mengeringkan daun, terutama untuk musim di Indonesia saat ini. Batu karang pun dipilih karena ringan.
Beberapa pebonsai mengatakan, pohon yang ideal untuk ditanam di atas batu adalah jenis beringin, serut, sisir, asem, atau pun sancang. Ini pemahaman yang ideal.
Kendati begitu, tetap saja para pebonsai, seperti Maspadhik, mencoba jenis lain, seperti kemuning, untuk ditanam di karang. Sekarang saya sedang menanam dewandaru (sianto, nama latinnya Eugenia flora), ujar penggemar bonsai yang dikenal juga sebagai perupa di Jakarta ini.
Lain lagi pendapat Rully Pangalila, penghobi bonsai yang memiliki nursery di Depok. Bagi Rully, pada prinsipnya ada dua jenis karang, yaitu karang gunung dan karang laut, yang sama-sama bagus digunakan. Hanya saja, idealnya adalah karang gunung, karena karang gunung lebih memiliki banyak rongga.
“Karang gunung bentuknya banyak rongga dan lubang, kalau karang laut masih padat dan jarang berlubang. Tapi, semua karang dapat digunakan, paparnya.
Menyoal tanaman yang ideal masuk ke batu, menurutnya, seharusnya semua jenis tanaman dapat tumbuh di karang. Itu tergantung kreasi para pemiliknya.Jadi sah-sah saja namanya orang berkreasi, dari tanaman santigi, ulmus, sampai beringin pun dapat ditumbuhkan di karang. Namanya saja kreasi,” papar Rully.
Menarik Akar
Pada kenyataannya, menanam di karang sebenarnya memiliki dua pengertian, yaitu menanam di dalam batu (in the rock) atau pun menanam di atas batu (on the rock). Teknik lain, pohon bonsai dapat diselipkan di tekstur karang yang memiliki lekuk, atau akarnya diselipkan di lekukan karang.
Untuk soal itu, Rully memberikan tips. Kalau akarnya sudah besar, akar dapat dimasukkan langsung ke rongga-rongga di dalam karang. Setelah dimasukkan ke dalam karang, karang dan akar tanaman itu dipendam tiga sampai lima bulan dan setelah itu dicek lagi. Bila masih ada akar yang keluar, akar dapat dimasukkan lagi ke dalam karang. Demikian seterusnya.
“Kalau akar masih serabut, dapat menggunakan sedotan. Jadi, akar dimasukkan ke dalam sedotan lalu sedotannya ditarik dan dimasukkan ke batu. Kalau akar besar ingin lebih besar lagi, ya dapat memanfaatkan selang. Yang penting, semua memerlukan kehati-hatian, terutama untuk memasukkan akar dan menariknya ke rongga batu, papar Rully.
This post was submitted by Sihar Ramses Simatupang / SH.

disadur dari indonesiamedia

Kamis, 21 Februari 2013

Kontes Bonsai, Lohan Sung Dihargai Rp 1,2 Miliar


MedanBisnis – Medan. Bonsai selalu diidentikkan dengan pohon eksklusif dan mewah. Pemiliknya pun kerap berasal dari kalangan ‘kakap’. Sehingga tak heran kalau bonsai dihargai bak sebuah barang wah dengan nilai relatif tinggi.
Lohan Sung, bonsai dari Bandung yang mengikuti Kontes Nasional Bonsai pada acara Pekan Flori Flora Nasional (PF2N) di Jalan Gatot Subroto, Medan itu dihargai Rp 1,2 miliar. Dari sekian ratusan bonsai yang mengikuti kontes, ternyata bonsai ini menarik perhatian pecinta bonsai.

Maklumlah, bonsai ini didatangkan dari Taiwan dan dikembangkan di Indonesia, Kota Bandung.
"Penawaran harga untuk bonsai ini mulai dari Rp 800 juta sampai Rp 1,2 miliar untuk satu pohon bonsai," kata sekretaris panitia kontes bonsai nasional, Fadli, kepada wartawan di Medan, Selasa (19/6).

Ada pula yang berani membayar Rp 3,2 miliar untuk 4 pohon bonsai sekaligus. Melihat dari postur bonsai Lohan Sung, kata Fadly, sekitar 80 tahun masa perawatannya. Lihatlah, mulai dari batangnya yang kokoh dan terbentuk, perpaduan antara akar dan rerumputannya, cabang-cabang serta dedaunannya yang serasi.

Belum lagi perpaduan antara vas, tanah, dan ukuran pertumbuhannya yang penuh perawatan. Wajar saja kalau bonsai ini ditawar seharga mobil mewah. "Kalau dulu bonsai selalu diidentikkan dengan tanaman pemilik orang-orang berduit. Ternyata sekarang sudah tidak. Hanya memerlukan kesabaran saja dalam merawatnya. Biaya perawatannya justru lebih murah dari harga jualnya," ujarnya yang juga gemar terhadap tanaman bonsai.

Memang diakui, Indonesia belum bisa mengalahkan bonsai asal Taiwan dan Jepang. Indonesia masih menempati urutan ketiga untuk kategori tanaman  bonsai.

Fadly mengatakan kontes bonsai nasional tahun ini diikuti dari ratusan peserta yang berasal dari berbagai kota seperti Tangerang, Bandung, Palu, Banda Aceh, dan Lampung. Ada juga yang hanya turut serta saja seperti Jakarta.( ramita harja)

disadur dari medanbisnisdaily

Kamis, 17 Januari 2013

Bonsai Indonesia diakui dunia

Medan (ANTARA News) - Indonesia termasuk satu dari tiga negara di dunia yang aktif dan dikenal dalam seni dan memiliki bonsai tanaman hias berkualitas.

"Selain Indonesia, ada Jepang dan Taiwan yang dikenal aktif di seni bonsai tanaman hias di dunia dan itu tentu saja membanggakan," kata Sekretaris Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia Cabang Medan, Fadly, di Medan, Selasa.

Dia mengatakan itu ditengah aktivitas penilaian sekelompok juri pada tanaman bonsai yang diikutsertakan dalam perlombaan di acara Pekan Flori Flora Nasional yang digelar di Medan mulai 18--24 Juni dan diikuti dari berbagai pencinta tanaman hias di dalam negeri.

Salah satu bonsai yang ikut dilombakan adalah tanaman Lohan Sung, tanaman asal Taiwan milik salah satu pengrajin tanaman hias di Bandung yang dijual seharga Rp1 miliar lebih.

Sebanyak 178 tanaman bonsai dari berbagai daerah ikut dalam perlombaan itu.

Menurut Fadly, beberapa masyarakat pencinta bonsai sering belajar dari pembonsai di Indonesia dengan alasan seni bonsai Indonesia memiliki karateristik yang berbeda dan lebih banyak jenis bonsai dibandingkan dengan Jepang dan Taiwan.

Bonsai Indonesia, misalnya, daunnya biasanya lebih rimbun dibandingkan tanaman bonsai Jepang dan Taiwan sehingga terkesan lebih segar.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki banyak tanaman yang bisa dibonsai, meski ada jenis yang menjadi khas, seperti Santigi, Cemara Udang dan Anting Putri yang biasanya menjadi piihan pembonsai asal Medan, Sumut.

"Karena bonsai berkaitan dengan seni, maka harganya mahal.Lihat saja bonsai Lohan Sung yang ikut dilombakan harga jualnya mencapai Rp1 miliar lebih," katanya.

Kualitas dan harga bonsai sangat tergantung dengan kesan pertama peminat, keserasian pot dan batang tanaman, keselarasan batang dan warna daun serta termasuk permainan warna tanaman itu secara keseluruhan seperti lumut yang mengesankan tanamn tua.

"Tanaman bonsai semakin digandrungi masyarakat dunia, karena selain menyangkut soal seni, juga mengajarkan kesabaran mulai dalam proses pembuatan hingga perawatannya," katanya.

Pengusaha bunga hias Veny Nursery yang masuk dalam kelompok Sri Deli, Elvira S. mengakui, peminat bonsai semakin banyak, tetapi penjualanya di Medan hanya pengrajin tertentu.

Proses bonsai yang memerlukan waktu lama termasuk perawatan yang harus serius membuat hanya pengrajin tanaman hias tertentu yang bisa berbisnis bonsai, katanya.
(ANT)
Editor: Ruslan Burhani

Disadur dari antaranews

Selasa, 27 September 2011

Pasar Dunia Butuh Ribuan Ahli Bonsai Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Pasar dunia masih membutuhkan ribuan ahli bonsai dan suiseki (seni batu panorama) khususnya dari Indonesia yang terbiasa merawat tanaman tropis.

"Dunia bonsai dan suiseki masih membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat untuk menjadi perawat, perajin, dan petani bonsai," kata Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI), Budi Sulistyo di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, hampir seluruh kolektor bonsai dan suiseki di dunia adalah masyarakat dari kalangan menengah atas yang tidak memiliki waktu luang untuk merawat secara teknis koleksinya, sehingga membutuhkan ahli-ahli bonsai dan suiseki secara khusus setiap saat.

Oleh karena itu, mereka membutuhkan ahli yang mengerti teknik merawat bonsai dan mempekerjakan mereka secara khusus.

"Penggemar bonsai saat ini tersebar di seluruh belahan dunia meliputi Asia hingga Eropa," ucapnya.

Pada dasarnya, bonsai dan suiseki merupakan komoditas baru, sehingga peluang untuk menjadi wirausaha di dalamnya masih terbuka lebar.

Sejumlah lapangan pekerjaan yang mungkin terbuka dalam dunia perbonsaian, misalnya, menjadi petani bonsai, perawat bonsai, hingga perajin bonsai.

Oleh karena itu, ia mendorong lebih banyak generasi muda untuk tidak ragu mempelajari dan terjun dalam dunia bonsai karena prospeknya yang masih sangat menjanjikan.
(H016)

sumber :http://www.antaranews.com/berita/248549/pasar-dunia-butuh-ribuan-ahli-bonsai-indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...