Rabu, 02 Januari 2013

Catatan berburu bonsai : Loa extra large

Hari libur, dengan cuaca yang sedikit agak mendung, adem sepoi sepoi, mantap, langsung saya kemas peralatan tempur secukupnya. Tak lupa saya ajak "asisten" yang mana adalah saudara saya yang kebetulan sedang menganggur, segera beranjak menyusuri tepian kali cisadane.

Pucuk dicinta ulam tiba, tak lama mencari, kami tiba di sebuah kebun pisang, yang ditanam oleh penduduk setempat, kebetulan si empunya lahan sedang iseng bakar sampah, saya dan saudara saya pun menghampiri dan minta ijin untuk menggali bonggol bonggol loa di sekitar kebun, dan bahkan beliau dengan antusias memberi kami ijin serta menunjukkan spot spot bonggol loa yang secara rutin beliau tebang sehingga tetap kerdil.

Beliau menunjuk pada sebongkah bonggol yang lumayan besar, mata kami pun berbinar, pandangan pertama, loa ini tampak gemuk dan pendek, dengan bagian bawah berlubang, tanpa menunggu lama, kami pun mulai menggali dengan semangat 45.






Tetapi, ternyata kami tertipu, karena bonggol yang terlihat kate di permukaan tanah ini hanya bagian atasnya saja, makin digali, makin tampak batang utamanya yang berada dalam posisi rebah, miring tertimbun tanah.


Kepalang basah, apalagi hujan mulai turun, membuat penggalian makin terasa berat. Badan sudah belepotan lumpur, mau ditinggal juga tanggung, akhirnya kami putuskan untuk terus menggali, dan akhirnya, setelah kurang lebih dua jam, si loa bongsor ini menyerah kalah.






Kami pun menggotong si bongsor dengan susah payah, menanjak melewati jalanan tanah yang becek dan licin akibat guyuran hujan. Kami membawa pulang si bongsor ini dengan penuh sukacita dan tertawa geli. Betapa repot nya membawa pulang si bongsor dengan menggunakan sepeda motor, hujan hujanan, diiringi tatapan mata heran orang orang yang sedang berteduh di pinggir jalan. Hahahaha.....super nekat dan niat bener.

Semoga si bongsor cepat sehat, dan nantikan cerita lanjutan dari si bongsor pada catatan berikutnya.


Senin, 31 Desember 2012

Belajar memahami estetika bonsai ( bag 3 )
















PRINSIP UMUM ESTETIKA BONSAI

Tujuan utama dari praktik estetika bonsai adalah untuk menciptakan dan menampilkan miniatur pohon dalam bentuk proporsi, dan detail secara keseluruhan. Sebuah bonsai harus menggambarkan pohon berusia dewasa, dengan cara membentuk dan memanipulasi bentuk dan permukaan pohon sehingga berkesan berusia dewasa dan tua. Pebonsai harus berhasil menampilkan bentuk muka sebagai bagian dari bonsai untuk dipamerkan dan dilihat. Untuk dapat melihat kualitas desain seorang pebonsai, dapat diuji dengan melihatnya dari tampak belakang, dimana batang dan cabang umumnya akan terlihat canggung, berantakan bahkan tidak menarik sama sekali.

Tidak ada jejak seniman bonsai

Pada saat yang sama, sentuhan desainer tidak harus jelas untuk pemirsa. Jika cabang dipotong sewaktu pembentukan pohon, bekas luka itu akan ditempatkan di "belakang" dari pohon di mana tidak dapat dilihat. Atau, pohon tidak akan ditampilkan sampai luka potongan telah tertutup oleh kulit kayu seiring berjalannya waktu, atau rintisan cabang akan tetap dibersihkan dan dibentuk menjadi tampak seperti rusak oleh angin atau petir. Demikian pula, kawat bonsai harus diangkat atau setidaknya tersembunyi ketika bonsai ditampilkan, dan harus tidak meninggalkan bekas permanen di cabang atau kulit kayu.

Keseimbangan Visual

Pedoman lain menitikberatkan pada keseimbangan visual antara batang, akar, daun, dan cabang. Katalog  gaya pohon yang diakui merupakan bagian dari perangkat pedoman. Istilah "keseimbangan"  di sini mungkin mengacu ke:

Visual statis yang seimbang, di mana aplikasi simetri mengarah ke bentuk yang stabil dan tenang (seperti gaya tegak formal atau chokkan), atau

visual dinamis yang seimbang, yang mungkin timbul dari suatu bentuk asimetris atau yang menyiratkan ketidakstabilan dan gerakan (seperti gaya cascade atau Kengai ).

Batang, akar, daun, dan cabang-cabang yang dimanipulasi melalui berbagai teknik oleh desainer bonsai yang secara prinsip bertujuan untuk memenuhi keseimbangan visual. Ruang negatif ("ruang kosong" diantara unsur-unsur padat seperti cabang atau dedaunan) juga dibentuk dan proporsional untuk tampil seimbang. Di hampir semua desain, pemirsa dapat melihat sepenuhnya melalui perspektif ruang negatif pohon terhadap latar belakangnya. Dalam kombinasi bentuk positif dan negatif, estetika bonsai tumpang tindih sampai pada batas tertentu dengan estetika seni patung.

Proporsi antar elemen

Pedoman umum lainnya menyentuh pada proporsi berbagai elemen bonsai. Proporsi yang paling utama adalah meniru atau menggambarkan karakter pohon dewasa semaksimal mungkin. Cabang ramping dengan dedaunan besar yang tidak proporsional dihindari, sebagaimana juga batang utama tipis dengan cabang tebal. Salah satu dari sedikit pengecualian untuk aturan ini adalah bahwa bunga dan buah ( pada pohon-pohon yang menghasilkan bunga atau buah) tidak dianggap cacat jika mereka tampak terlalu besar dibanding pohonnya sendiri.

Fleksibilitas dari aturan

Satu atau lebih dari aturan umum yang dapat diterima tentang bentuk bonsai adalah memperbolehkan bonsai bengkok atau patah untuk pohon tertentu tanpa dampak merusak dasar estetika dan artistik. Bahkan, melampaui peraturan yang telah ditetapkan memungkinkan pertumbuhan estetika dalam seni bonsai, seperti yang terlihat di banyak karya yang diciptakan oleh Masahiko Kimura dan Kunio Kobayashi.

...................................................................................bersambung

Rabu, 26 Desember 2012

Catatan berburu bonsai : gulo gumantung

Pagi yang indah, setelah guyuran hujan lebat seharian kemarin, yang membuyarkan acara libur saya, yang mana saya merencanakan untuk menjelajahi spot spot bakalan bonsai potensial yang sempat saya survei jauh jauh hari sebelumnya. Maka pagi ini saya tuntaskan misi pertama saya, kebetulan jam kerja saya juga masuk siang, saya bulatkan tekad untuk membawa pulang satu atau dua bonggol incaran saya.

Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, sehabis mandi dan sarapan, saya kemas alat alat tempur seadanya, linggis, gergaji, gunting dan cutter, serta karung bekas, langsung tancap gas bebek butut kesayangan untuk melibas medan yang sedikit berlumpur, karena sisa hujan kemarin.

Sejauh mata memandang, hamparan hijau, rumput, ilalang, dan aneka semak belukar, mengaburkan pandangan atas buruan saya, dan untunglah, saya masih sempat menandai spot spot bonggol incaran, sehingga tak butuh waktu lama untuk menemukannya kembali.

Spot pertama, saya temukan tanaman yang saya yakin adalah gulo gumantung, tapi kondisi medannya kurang mendukung, karena dikelilingi ilalang dan belukar yang cukup tinggi, menciutkan nyali saya, takut kalau ada ular dan sebangsanya. Terpaksa, saya tunda dan menjadikannya PR untuk target suatu saat nanti.





Saya melanjutkan perburuan ke titik yang lain. Sedikit menuruni lembah, saya berjalan ke dekat sebuah danau, dan akhirnya menemukan spesies yang saya kurang tahu namanya, ( mungkin sobat bonsai ada yang lebih tahu, beritahu saya ya ), tapi saya yakin bagus untuk di bonsai, akhirnya tanpa ba bi bu, dengan sedikit ngos ngosan dan keringat mengucur, bonggol ini masuk karung dengan mulusnya.









Dapat satu buruan, rasanya belum mantap kalo belum karungin buruan utama, gulo gumantung, akhirnya saya berjalan lagi ke area lain dan menemukan kembali sekumpulan buruan utama. Mantap, lebih dari satu gulo gumantung berjajar di balik ilalang, tapi masih cukup terbuka dan enak untuk digali. Sialnya, kamera butut saya ngadat karena baterainya habis, untung masih bawa HP, jadi, momen perburuan hari ini masih bisa terabadikan walau kualitas foto kurang oye.









Perlawanan setimpal saya rasakan dari bonggol satu ini, hampir habis tenaga saya, juga masih dapat bonus kecoblos duri duri nya, tapi hasilnya sepadan, perakaran yang radial, mengelilingi batang utama, membuat proses penggalian menjadi lebih menantang.

Selang beberapa waktu, si gulo gumantung sukses terangkat dari tanah.

Akhirnya perburuan hari ini saya sudahi, karena sudah mepet waktunya berangkat kerja. Sampai dirumah, saya cuci bersih hasil buruan saya, dan saatnya untuk masuk ruang karantina.









Senin, 24 Desember 2012

Belajar memahami estetika bonsai ( bag 2 )



















ESTETIKA BONSAI

Dalam prakteknya selama ber abad abad, estetika bonsai jepang telah dikodekan dalam beberapa metode penting dan pedoman estetika. Seperti jenis aturan lainnya, pedoman estetika membantu para praktisi bonsai dalam tradisi yang didirikan dengan beberapa jaminan keberhasilan. Pedoman saja tidak menjamin hasil yang sukses, namun demikian, aturan aturan desain jarang dapat dipecah tanpa mengurangi dampak terhadap spesimen bonsai itu sendiri.

Memahami estetika bonsai, sudah pasti berhubungan dengan gaya bonsai. Seni bonsai jepang telah memberikan panduan baku tentang berbagai macam gaya bonsai, yang menggambarkan sejumlah atribut dasar dari sebuah bonsai, seperti sudut dan kelurusan batangnya, konfigurasi cabang dan jumlah pohon dalam pot bonsai.

Sistem gaya dalam bonsai ada beberapa tujuan, sebagian betujuan praktis, sebagian bertujuan estetis. Dalam aplikasinya yang paling sederhana dan umum, gaya memberikan bentuk deskripsi singkat untuk spesimen bonsai. Gaya standar juga membantu para pebonsai dalam membuat rencana pengembangan untuk sebuah bakalan bonsai. Bakalan bonsai mentah yang belum dibentuk mungkin memiliki karakteristik yang mendekati sebuah gaya tertentu dan kurang cocok dengan gaya yang lainnya. Pebonsai dapat mengevaluasi spesimen bahan bonsai terhadap gaya mana yang dapat diterima, untuk menentukan dedaunan, cabang dan batang mana yang harus dibuang atau dibentuk kembali.

Selayaknya aturan dan pedoman lainnya, berbagai gaya bonsai akan memberikan panduan kepada para pebonsai, namun tidak sepenuhnya mengikat. Spesies tanaman bonsai, usia pohon ketika mulai di training, bentuk dan struktur awal pohon, dan para pebonsai dengan berbagai macam preferensi sangat mempengaruhi bentuk bonsai yang dihasilkan.

bersambung

Rabu, 19 Desember 2012

Pose kedua bonsai kaliage osteoporosis

Tak sampai dua bulan, kaliage ku tampak subur dan sudah terlihat mulai awut awutan, saatnya cukur rambut dan di kepang dikit lagi.







Catatan rekam jejak :

Kaliage osteoporosis
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...